Senin, 19 November 2012

Talas, Salah Satu Komoditas Umbi yang Terabaikan



Indonesia terkenal dengan beraneka ragamnya sumber daya alam, terutama hasil pertanian. Salah satu komoditas yang melimpah adalah berasal dari jenis umbi-umbian. Dewasa ini, kita mengenal beberapa jenis umbi seperti ketela rambat (ubi ungu, kuning, oranye, putih), ketela pohon (singkong), talas-talasan (Kimpul, Mentega, Bentul, Sutera, dan Ketan), gadung, porang, suweg, gembili, dan masih banyak lagi. Pengolahan umbi-umbian tersebut biasanya dilakukan secara konvensional saja, yaitu hanya sebatas digoreng, direbus, atau hanya dijadikan keripik. Namun, untuk ketela rambat dan ketela pohon, pengolahannya sudah beraneka ragam yaitu dibuatnya tepung MOCAF (Modified Cassava Flour) yang karateristiknya hampir mirip dengan tepung terigu, tepung kanji, sirup glukosa, pati termodifikasi, dan lain-lain. Jenis umbi-umbian yang lain juga berpotensi untuk dikembangkan mengingat jumlahnya yang melimpah dan kandungan gizinya yang tinggi. Salah satu umbi yang menarik untuk saya kaji adalah tentang talas.
Talas (C. esculenta (L.) Schott) mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam, ‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan diatas 1000 m dpl., baik liar maupun di tanam.
Ada beberapa jenis talas yang dikenal di Indonesia yaitu Kimpul, Mentega, Bentul, Sutera, dan Ketan. Kimpul memiliki ukuran yang lebih kecil, sedangkan yang lain berukuran lebih besar bonggolnya. Talas Sutera memiliki daun yang berwarna hijau muda dan dan berbulu halus seperti Sutera. Di panen pada umur 5-6 bulan. Umbinya kecoklatan yang dapat berukuran sedang sampai besar. Talas Ketan warna pelepahnya hijau tua kemerahan. Di Bogor dikenal pula jenis talas yang disebut talas Mentega (talas Gambir atau talas Hideung), karena batang dan daunnya berwarna unggu gelap. Bentuk Bentul hampir mirip dengan beberapa saudaranya yang lain yaitu talas Sutera, Ketan, dan Mentega.

Namun, Bentul umbinya lebih besar dengan warna batang yang lebih ungu di banding talas Sutera. Bentul dapat dipanen setelah berumur 8-10 bulan dengan umbi yang relatif lebih besar dan berwarna lebihmuda kekuning-kuningan. Bentul banyak terdapat di Malang. Biasanya dijual dipinggir jalan daerah Singosari. Gambar Bentul inilah yang menginspirasi pendiri salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia yang pabriknya ada di Malang, Jawa Timur.yaitu Bentoel Group untuk menjadikannya sebagai logo perusahaan.

Gambar 2. Logo Perusahaan Bentoel Grup (gambar ditengah menunjukkan bonggolan talas Bentul)

Talas memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan terutama pencernaan, karena granula patinya tergolong kecil dan kadar seratnya yang cukup tinggi. Di Hawai dan kepulauan Pasifik, talas telah digunakan sebagai makanan pendamping ASI. Namun, talas memiliki getah (orang Jawa Timur menyebutnya ‘dadak’) yang sangat banyak pada umbinya. Saat dikukus atau direbus, teksturnya cenderung lembut dan punel, tapi berlendir. Nilai karbohidrat yang cukup tinggi, dapat menjadikan talas sebagai sumber makanan pokok pengganti beras.
Tabel 1. Kandungan Gizi Talas per 100 gram

Sumber : Direktorat Gizi Depkes RI (1967) dalam Kasno dkk (2006)

Kadar air yang cukup tinggi (62%) dan penanganan pasca panen yang tidak benar dapat menyebabkan talas mudah rusak oleh mikroorganisme. Jenis mikroorganisme yang merusak talas berasal dari golongan fungi (Pithium splendens, Fusarium species, Rhizoctonia species and Botryodiplodia theobromae) yang menyebabkan penyakit dasheen corm rot. Selain itu penyakit soft rot yang disebabkan oleh bakteri Erwinia chrysanthemi.    
 Gambar 3. Kerusakan Talas Akibat Penyakit Dasheen Corm Rot

Gambar 4. Kerusakan Talas Akibat Penyakit Soft Rot

Beberapa penelitian tentang talas yang dilakukan peneliti asing, menganalisa morfologinya dengan menggunakan DNA untuk mengetahui keragaman genetiknya, seperti penelitian Singh et.al (2012). Singh dan kawan-kawannya mengumpulkan 21 jenis talas yang berasal dari kepulauan Andaman, India. Mereka mengamati 63% variasi fenotip amplikasi fragmen sebanyak 491 yang kemudian ditunjukan dengan 347 polymorphic banding patterns yang dikelompokkan menjadi 2 kluster besar yaitu RAPD and ISSR markers dengan keragaman 56% dan 57%. Kedua marker tersebut membagi populasi menjadi 2 sub kluster dan menunjukkan korelasi pada parameter morfologinya. Penelitian ini mengamati keragaman pola yang menunjukkan keanekaragaman genetik dari C. esculenta di Kepulauan Andaman yang bertujuan untuk mengurangi pengulangan plasma nutfah talas di bank gen.


Daftar Pustaka
Kasno, A., N. Saleh dan E. Ginting. 2006. Pengembangan Pangan Berbasis Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Guna Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional. Buletin Palawija no 12. 43-51.

Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2012. Talas ( Colocasia esculenta (L.) Schott ). Jakarta.

Robin, Gregory C. 2008. Commercial Dasheen (Colocasia (L.) Schott var.) Production And Post-Harvest Protocol For The OECS. Caribbean Agricultural Research and Development Institute. Roseau, Commonwealth of Dominica.

Singh, Shrawan, D. R. Singh, F. Faseela, Naresh Kumar, V. Damodaran, and R. C. Srivastava. 2011. Diversity of 21 taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) accessions of Andaman Islands. Genet Resour Crop Evol (2012) 59:821–829

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar